Rabu, 26 Mei 2010

Wajah Plagiator


WAJAH PLAGIATOR SEMBUNYI DI KETIAK INTERTEKSTUAL
Oleh Firman Venayaksa*)

Membaca tulisan Widzar (PR, 18/02/06) tentang diskusi bedah buku puisi Yunis Kartika dan gugatan terhadap Soni Farid Maulana yang ditanggapi dengan hebat oleh yang bersangkutan (PR, 25/02/06), mengingatkan saya terhadap perseteruan antara Raja dangdut Rhoma Irama dan Inul Daratista. Bagaimana tidak? Soni FM adalah seorang penyair yang sudah tak lagi diragukan keberadaannya dalam kancah kesusastraan Indonesia: buku-buku puisinya sudah menyebar ke mana-mana, pernah menjadi redaktur Khazanah PR bertahun-tahun lamanya, alumni Festival de Winternachten pula. Sementara Widzar adalah seorang penyair yang baru goyang kata dari milis ke milis, komunitas ke komunitas, ke beberapa koran dan majalah. Namun seperti halnya Inul, Widzar memiliki daya tarik tersendiri. Ia adalah anak muda dengan konsistensi yang tinggi terhadap dunia sastra yang digelutinya. Ketika ada kegiatan tentang sastra, maka ia berani hadir kendati tempatnya jauh. Saya dan Gola Gong cukup gembira ketika Widzar dan Gank Mnemonic mau datang pada pertemuan sastrawan se-kampung nusantara (Ode Kampung) yang diselenggarakan oleh Rumah Dunia. Begitu pula Soni. Ia sempat datang ke Rumah Dunia, membagikan ilmunya tentang proses kreatif dalam menulis puisi, memberikan motivasi kepada para penulis muda Banten.
Dua penyair ini sudah saya kenal dekat sejak lama. Jadi ketika mereka ”berkelahi” di Khazanah, saya membaca tulisan mereka dengan hati-hati, berusaha mendalami pemikiran mereka yang berjurang itu. Berkat mereka, akhirnya saya termotivasi untuk membaca puisi Yunis Kartika.
Seperti yang diungkapkan oleh Soni, bahwa menilai sebuah puisi berarti mencoba untuk menafsirkan makna. Tetapi tidak mungkin kita akan berkeinginan mencari makna di balik teks tersebut jika bulu kuduk kita tidak berdiri (mengutip dari tulisan Widzar yang dikutip berdasarkan pernyataan Acep Zamzam Noor di Rumah Dunia). Dengan demikian, sebetulnya tidak ada yang salah antara pemikiran yang dikemukakan Widzar maupun Soni. Justru beriringan. Proses yang diungkapkan oleh Widzar disebut sebagai apresiasi, sementara yang diungkapkan oleh Soni disebut sebagai kajian. Proses kajian adalah proses selanjutnya setelah mengapresiasi.
Setelah membaca puisi Yunis yang diterbitkan buku pop, tentu saja saya punya penilaian tersendiri, karena sifat menilai dalam sebuah karya—jika kita mengaitkan dengan teori resepsi sastra—maka pasti terdapat perbedaan dalam memaknai teks, karena hal tersebut disesuaikan dengan cakrawala harapan dari masing-masing pembaca. Seyogyanya kita mesti mahfum jika Widzar lebih menyukai puisi yang berlapis (metaforis) dalam menentukan kualitas, kendati hal tersebut tidak bisa dipukul rata dalam menilai puisi-puisi lainnya. Namun, Soni FM pun jangan dulu menyimpulkan terlalu dini tentang puisi-puisi Yunis yang masih mentah dan bergetah, apa lagi ketika disandingkan dengan para penyair wanita lainnya yang telah eksis lebih dulu.
mengapa tak kau tambatkan/ perahumu pada satu dermaga?/ padahal kau lihat/ bukan hanya satu pelabuhan/ yang mau kau sandar/
kalau dulu/ pernah ada pelabuhan kecil yang harus/ di lupakan/ mengapa tak kau lakukan/
Setelah membaca puisi Yunis di atas, saya diingatkan kembali terhadap proses kreatif saya dalam membuat musikalisasi puisi. Dulu, saya sempat ingin memusikalisasikan sebuah puisi “Pelabuhan” karya Tias Tatanka yang sampai saat ini belum juga selesai. Puisi ini diakui oleh Tias sebagai puisi cinta yang didedikasikan untuk Gola Gong, yang kini menjadi suaminya. Puisi tersebut dimuat dalam novel “Balada Si Roy” pada tahun 1989, dan dibukukan dalam antologi “Bebegig” (LiST, 1998: 34) bersama enam penyair Serang lainnya.
Pelabuhan
Kenapa tak pernah kau tambatkan/ perahumu di satu dermaga?/ Padahal kulihat, bukan hanya satu / pelabuhan tenang yang mau menerima / kehadiran kapalmu!/
Kalau dulu memang pernah ada/ satu pelabuhan kecil, yang kemudian / harus kau lupakan/ mengapa tak kau cari pelabuhan lain/ yang akan memberikan rasa damai yang lebih/
Seandainya kau mau,/ buka tirai sanubarimu, dan kau akan tahu,/ pelabuhan mana yang ingin kau singgahi untuk selamanya,/ hingga pelabuhan itu jadi rumahmu,/ rumah dan pelabuhan hatimu./
Solo, 1989
Jika kita melihat sekilas, dalam penggunaan kata, puisi Yunis lebih ringkas dan padat. Namun jika kita membaca secara keseluruhan, maka hampir seluruh diksi dan imaji yang dibangun dalam puisi Yunis, terdapat dalam puisi Tias. Agar kita tidak langsung menghakimi bahwa ada unsur plagiarisme di sini, lebih baik kita mencoba untuk memakai perbandingan teks dengan pendekatan yang relatif mudah dan sering dilakukan oleh para akademis sastra yaitu pendekatan semiotik yang dikembangkan oleh Roland Barthes. Barthes menggunakan konsep connotation-nya Hjemslev untuk membongkar makna-makna yang tersembunyi. Konsep ini menetapkan dua cara pemunculan makna yang bersifat promotif, yaitu denotatif dan konotatif. Pada tingkat denotatif, tanda-tanda itu mencuat terutama sebagai makna primer yang “alamiah”. Namun pada tingkat konotatif, di tahap skunder, muncullah makna yang ideologis (dalam Dahana, 2001: 23). Selanjutnya Barthes mengungkapkan bahwa petanda ini memiliki komunikasi yang sangat dekat dengan budaya, pengetahuan, dan sejarah dan melaluinya, dunia lingkungan menyerbu sistem itu (dalam Kurniawan, 2001: 68).
Pada tingkat denotatif, kita melihat sebuah judul yang hampir sama yiatu “Dermaga” dan “Pelabuhan”. Pada tahap ini kita melihat bahwa dua kata tersebut lebih mentitikberatkan dalam menunjukkan sebuah tempat untuk perahu/ kapal yang hendak berlabuh. Tetapi dua kata ini bukan sebuah sinonim. Dermaga adalah tembok rendah yang memanjang di tepi pantai menjorok ke laut di kawasan pelabuhan (lihat KBBI, 2003: 256), sementara pelabuhan adalah tempat berlabuh (ibid, hal. 622). Jika kita teliti membaca teks tersebut, maka kita bisa menyimpulkan bahwa bisa jadi terdapat pelbagai dermaga dalam satu pelabuhan dan tidak mungkin terdapat pelbagai pelabuhan dalam satu dermaga, karena dermaga adalah salah satu bagian yang berada di pelabuhan. Seperti halnya rumah, maka dermaga hanya salah satu ruangan dari sebuah konstruksi bangunan bernama rumah. Jika kita mengaitkan dengan puisi Yunis maupun Tias, dermaga dalam konteks tersebut seperti diidentikan dengan pelabuhan. Yunis dan Tias sama-sama tidak konsisten dalam menunjukkan sebuah tempat, karena jika dalam pemahaman mereka antara dermaga dan pelabuhan adalah identik, maka seharusnya mereka memilih salah satu kata saja. Kesalahan pemahaman tersebut menjadi sangat fatal ketika mengaitkan dengan judul puisi Yunis. Ia lebih memilih judul Dermaga. Jika kita berasumsi bahwa dalam sebuah pelabuhan terdapat pelbagai dermaga, maka kerisauan sang Aku menjadi tidak logis, karena sang Engkau bisa jadi masih berada di satu pelabuhan walau berpindah dari satu dermaga ke dermaga lainnya. Sementara itu, ketidakkonsistenan dalam puisi Tias semakin bertambah ketika ia “bingung” antara memilih diksi “perahu” dan “kapal”.
Kenapa tak pernah kau tambatkan/ perahumu di satu dermaga?/ Padahal kulihat, bukan hanya satu/ pelabuhan tenang yang mau menerima/ kehadiran kapalmu!
Puisi Yunis dan Tias, sama-sama membincangkan tentang sang Aku yang mempertanyakan kepada sang Engkau mengapa tidak juga melabuhkan perahu/ kapal di satu dermaga (tempat)? Perbedaan antara kedua puisi ini terlihat ketika lahirnya “saran” kepada orang yang memiliki perahu/ kapal tersebut. Dalam puisi Tias, sang Aku mengakui bahwa sang Engkau memiliki kemampuan untuk berlabuh dari dermaga satu ke dermaga lainnya. Namun sang Aku memberikan solusi untuk mencari dermaga/ pelabuhan lain yang lebih damai, sehingga sang Engkau bisa menjadikan tempat tersebut sebagai kediamannya yang terakhir (lihat bait ketiga). Sementara di dalam puisi Yunis, Sang Engkau dalam persepsi sang Aku adalah seseorang yang sangat berkehendak untuk terus bersandar dari dermaga satu ke dermaga lainnya. Berbeda dengan puisi Tias yang lebih terkesan memberikan “pilihan”, di dalam puisi Yunis, ada kesan untuk mengharuskan (penekanan) terhadap sang Aku untuk melupakan pelabuhan kecil yang dulu sempat di datangi sang Engkau walaupun dikemas dalam bentuk pertanyaan.
kalau dulu/ pernah ada pelabuhan kecil yang harus/ di lupakan/ mengapa tak kau lakukan
Selanjutnya pada tahap konotatif, kita bisa memaknai bahwa kata dermaga/ pelabuhan adalah sebuah wilayah kesadaran untuk menyandarkan rasa (dalam konteks ini adalah cinta—mencintai). Sementara perahu/ kapal adalah sarana dalam memindahkan hasrat agar bisa berpetualang mencicipi dermaga hati yang tersebar. Puisi ini menyiratkan tentang pertanyaan dari sang Aku kepada sang Engkau yang begitu mudahnya menyandarkan rasa cintanya, begitu mudah pula ia mencari “dermaga” lain. Pada tahap ini, antara puisi Yunis dan puisi Tias tidak memperlihatkan sebuah perbedaan yang terlalu mencolok. Sebetulnya puisi dengan tema klasik seperti ini sudah sering kita dengar. Seorang lelaki yang berpetualang mencari tambatan hati, sementara di pihak lain, ada seorang wanita yang dengan kukuh menunggu cinta sang lelaki agar hinggap dalam dermaganya. Secara intertekstual, posisi lelaki semacam ini bisa kita dapatkan dalam lagu group Band Samsons, “Naluri Lelaki”, yang sekarang sedang digandrungi oleh anak-anak muda.
aku adalah lelaki/ yang tak pernah lelah mencari wanita/ ... aku adalah lelaki/ yang pantang menyerah memikat wanita/
Jika kita kembali melihat dua puisi tersebut, seperti yang saya tuliskan di atas, nampaknya hanya terlihat perubahan-perubahan kecil saja, seperti diksi yang dikotak-katik, membuang diksi yang tidak perlu dan melakukan editing terhadap partikel maupun kata untuk mendapatkan makna baru. Tapi bagi para pembaca yang kritis, nampaknya sulit untuk dikelabuhi. Bagi saya, Puisi “Dermaga” yang diklaim sebagai puisi Yunis Kartika, merupakan proses ubahan dari puisi “Pelabuhan” milik Tias Tatanka. Proses seperti ini mengingatkan saya terhadap salah satu cara menulis bagi pemula yang dipaparkan oleh seorang dosen UI, Ismail Marahimin, yaitu copy the master. Cara seperti ini memang sangat efektif untuk mengetahui kelebihan sekaligus kekurangan dari puisi yang ada. Tapi ada celah yang tak bisa dipungkiri, kita akan terjebak dalam epigon berkepanjangan!
Intertekstual dan Plagiarisme
Teeuw mengungkapkan bahwa tidak ada sebuah teks pun yang sungguh-sungguh mandiri, dalam arti bahwa penciptaan dan pembacaannya tidak dapat dilakukan tanpa adanya teks-teks lain (2003: 120). Oleh karena itu dalam menciptakan sebuah teks, proses saling mempengaruhi menjadi sebuah kelaziman.
Sapardi Djoko Damono pernah membuat sebuah cerpen untuk meng-counter pemikiran Pramoedya Ananta Toer dalam novel “Arok Dedes”. Jika di dalam novel Pram, ia lebih menitikberatkan tentang tema perlawanan orang tertindas terhadap penguasa, di dalam cerpen SDD, cerita Arok Dedes ternyata tak lebih dari permasalahan paha dan betis Dedes yang menggairahkan sehingga Arok tergila-gila dibuatnya, mau melakukan apapun agar mendapatkan Dedes. Saut Situmorang pernah juga menggubah puisi “Bunga Gugur” karya Rendra dengan gaya humoris. Jauh hari sebelumnya, karya Cervantes yang terkenal, “Don Quixote” dipandang sebagai parodi atas jenis roman picaresque, yang mewakili kemapanan sastra kanon pada zamannya. Contoh-contoh tersebut, dalam bahasa Teeuw adalah upaya dari mereka untuk menisbikan ataupun meniadakan norma sastra, konteks atau horison harapan pembaca dengan mempermainkan ataupun menertawakan karya sastra berwibawa mewakili norma-norma yang ada.
Intertekstualisasi yang dilakukan oleh penulis merupakan hal yang sangat biasa dalam dunia sastra. Sebagai seorang penulis, kita harus paham betul bahwa ada semacam arketif dalam penulisan puisi yaitu ketaksadaran terpendam yang akan hadir pada suatu waktu. Hal ini bisa terjadi kepada siapa saja jika terdapat impuls yang sama ketika menulis puisi. Impuls ini akan terjadi misalnya jika membaca buku yang sama, sehingga ada kemungkinan intertekstual bermain di otak kita (monogenesis), atau kita mengetahui suatu sejarah yang satu kausalitas, sehingga ada pertautan antarkeduanya (polygenesis). Kegiatan seperti ini akan menjadi luar biasa ketika sang penulis benar-benar mencaplok karya orang lain secara sadar dan mengklaimnya sebagai hasil dari proses kreatifnya. Dalam hal ini saya ingin menegaskan bahwa kasus intertekstual dan plagiarisme adalah dua kasus yang tidak bisa disamakan, walaupun wajah para plagiator sering berlindung dalam jepitan ketiak interteks.
Kasus plagiat memang bukan peristiwa yang baru. Sebagai contoh, pada tahun 2002, Dadan S. Sanusi (puisi “Hujan Asam Suatu Ketika”) dituduh memplagiat puisi Linda Kieven oleh Rita W dengan judul “Hujan Asam”yang terdapat dalam antologi “The Flower Night”. Debat kusir dan perkelahian intelektual di cybersastra.net dan bumimanusia.or.id menghadirkan pula bermacam pembaca, dan salah satunya adalah Soni FM dan anggota Arena Studi dan Apresiasi Sastra (ASAS) UPI; Cerpen Alex R yang berjudul “Nurani Seorang Tentara” memiliki kesamaan dengan cerpen “Penembak Gelap” karya Liam O’ Flaherty; Cerpen “Olan” karya Donny Anggoro yang dibukukan oleh Dewan Kesenian Jakarta, dalam rangka menghimpun para sastrawan kota Jakarta dan sekitarnya (Bentang Budaya, 2003 hlm. 64—73) memiliki kesamaan dengan cerpen "Sialan" karya Putu Setia (Pustaka Manikgeni, 1994, hlm. 77—85); Y. Thendra BP menuliskan press release di cybersastra.net (12/03/03) karena ia berang ketika puisinya dibukukan dalam antologi Dian Sastro For President tetapi bukan atas namanya (puisi tersebut diklaim oleh Indriyani Hastuti).
Contoh-contoh kasus di atas hanya sebagian kecil dari kasus lain yang tak sedikit jumlahnya. Plagiarisme menjadi alang-alang yang tumbuh di taman sastra. Keberadaannya tidak diperlukan, namun ia selalu saja hadir dan berkembang. Kehadiran tersebut dikarenakan tidak adanya aturan baku dan buramnya batasan-batasan tentang plagiarisme dalam wilayah sastra, sehingga dari sekian banyak kasus yang ada, penyelesaiannya kerap tidak tuntas. Biasanya, undang-undang yang diberlakukan selama ini adalah norma moralitas tentang kejujuran atau ketidakjujuran yang menurut saya sangat merugikan para pengarang yang sudah bersusah payah menciptakan gagasan seni dan intelektualnya. Bahkan dalam KUHP kita tidak mengenal tentang plagiat atau penjiplakan suatu karya orang lain. Kemungkinan besar jika ada kasus demikian, maka kita bergantung pada ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang ada yaitu undang-undang No.19 tahun 2002 tentang Hak Cipta.
Silaturahmi pemikiran antara Widzar dan Soni FM, bagi saya adalah persoalan yang tidak terlalu mengkhawatirkan, karena mereka berargumen dengan landasan yang kuat, walaupun kedua-duanya melontarkan pernyataan dan bantahan tentang kebohongan publik. Justru yang ingin saya tanyakan, berdasarkan fakta yang saya uraikan, jangan-jangan penyair yang kalian bicarakan yang justru melakukan kebohongan publik?

Baca Terusannya »»  

SEJARAH CERITA PENDEK

SEJARAH CERITA PENDEK

Cerita pendek berasal-mula pada tradisi penceritaan lisan yang menghasilkan kisah-kisah terkenal seperti Iliad dan Odyssey karya Homer. Kisah-kisah tersebut disampaikan dalam bentuk puisi yang berirama, dengan irama yang berfungsi sebagai alat untuk menolong orang untuk mengingat ceritanya. Bagian-bagian singkat dari kisah-kisah ini dipusatkan pada naratif-naratif individu yang dapat disampaikan pada satu kesempatan pendek. Keseluruhan kisahnya baru terlihat apabila keseluruhan bagian cerita tersebut telah disampaikan.

Fabel, yang umumnya berupa cerita rakyat dengan pesan-pesan moral di dalamnya, konon dianggap oleh sejarahwan Yunani Herodotus sebagai hasil temuan seorang budak Yunani yang bernama Aesop pada abad ke 6 Sebelum masehi (meskipun ada kisah-kisah lain yang berasal dari bangsa-bangsa lain yang dianggap berasal dari Aesop). Fabel-fabel kuno ini kini dikenal sebagai Fabel Aesop. Akan tetapi ada pula yang memberikan definisi lain terkait istilah Fabel. Fabel, dalam khazanah Sastra Indonesia seringkali, diartikan sebagai cerita tentang binatang. Cerita fabel yang populer misalnya Kisah Si Kancil, dan sebagainya.

Selanjutnya, jenis cerita berkembang meliputi sage, mite, dan legenda. Sage merupakan cerita kepahlawanan. Misalnya Joko Dolog. Mite lebih menyaran pada cerita yang terkait dengan kepercayaan masyarakat setempat tentang sesuatu. Contohnya Nyi Roro Kidul. Sedangkan legenda mengandung pengertian sebuah cerita mengenai asal usul terjadinya suatu tempat. Contoh Banyuwangi.

Bentuk kuno lainnya dari cerita pendek, yakni anekdot, populer pada masa Kekaisaran Romawi. Anekdot berfungsi seperti perumpamaan, sebuah cerita realistis yang singkat, yang mencakup satu pesan atau tujuan. Banyak dari anekdot Romawi yang bertahan belakangan dikumpulkan dalam Gesta Romanorum pada abad ke-13 atau abad ke-14. Anekdot tetap populer di Eropa hingga abad ke-18, ketika surat-surat anekdot berisi fiksi karya Sir Roger de Coverley diterbitkan.

Di Eropa, tradisi bercerita lisan mulai berkembang menjadi cerita-cerita tertulis pada awal abad ke-14, terutama sekali dengan terbitnya karya Geoffrey Chaucer ''Canterbury Tales'' dan karya Giovanni Boccaccio ''Decameron''. Kedua buku ini disusun dari cerita-cerita pendek yang terpisah (yang merentang dari anekdot lucu ke fiksi sastra yang dikarang dengan baik), yang ditempatkan di dalam cerita naratif yang lebih besar (sebuah cerita kerangka), meskipun perangkat cerita kerangka tidak diadopsi oleh semua penulis. Pada akhir abad ke-16, sebagian dari cerita-cerita pendek yang paling populer di Eropa adalah "novella" kelam yang tragis karya Matteo Bandello (khususnya dalam terjemahan Perancisnya). Pada masa Renaisan, istilah novella digunakan untuk merujuk pada cerita-cerita pendek.

Pada pertengahan abad ke-17 di Perancis terjadi perkembangan novel pendek yang diperhalus, "nouvelle", oleh pengarang-pengarang seperti Madame de Lafayette. Pada 1690-an, dongeng dongeng-dongeng tradisional mulai diterbitkan (salah satu dari kumpulan yang paling terkenal adalah karya Charles Perrault). Munculnya terjemahan modern pertama ''Seribu Satu Malam'' karya Antoine Galland (dari 1704; terjemahan lainnya muncul pada 1710–12) menimbulkan pengaruh yang hebat terhadap cerita-cerita pendek Eropa karya Voltaire, Diderot dan lain-lainnya pada abad ke-1

cerita pendek modern

Cerita-cerita pendek modern muncul sebagai genre nya sendiri pada awal abad ke-19. Contoh-contoh awal dari kumpulan cerita pendek termasuk ''Dongeng-dongeng'' Grimm Bersaudara (1824–1826), ''Evenings on a Farm Near Dikanka'' (1831-1832) karya Nikolai Gogol, ''Tales of the Grotesque and Arabesque'' (1836), karya Edgar Allan Poe dan ''Twice Told Tales'' (1842) karya Nathaniel Hawthorne. Pada akhir abad ke-19, pertumbuhan majalah dan jurnal melahirkan permintaan pasar yang kuat akan fiksi pendek antara 3.000 hingga 15.000 kata panjangnya. Di antara cerita-cerita pendek terkenal yang muncul pada periode ini adalah "Kamar No. 6" karya Anton Chekhov.

Pada paruhan pertama abad ke-20, sejumlah majalah terkemuka, seperti ''The Atlantic Monthly'', ''Scribner's'', dan ''The Saturday Evening Post'', semuanya menerbitkan cerita pendek dalam setiap terbitannya. Permintaan akan cerita-cerita pendek yang bermutu begitu besar, dan bayaran untuk cerita-cerita itu begitu tinggi, sehingga F. Scott Fitzgerald berulang-ulang menulis cerita pendek untuk melunasi berbagai utangnya.

Permintaan akan cerita-cerita pendek oleh majalah mencapai puncaknya pada pertengahan abad ke-20, ketika pada 1952 majalah ''Life (majalah) Life'' menerbitkan long cerita pendek Ernest Hemingway yang panjang (atau novella) ''Lelaki Tua dan Laut''. Terbitan yang memuat cerita ini laku 5.300.000 eksemplar hanya dalam dua hari.

Sejak itu, jumlah majalah komersial yang menerbitkan cerita-cerita pendek telah berkurang, meskipun beberapa majalah terkenal seperti ''The New Yorker'' terus memuatnya. Majalah sastra juga memberikan tempat kepada cerita-cerita pendek. Selain itu, cerita-cerita pendek belakangan ini telah menemukan napas baru lewat penerbitan online. Cerita pendek dapat ditemukan dalam majalah online, dalam kumpulan-kumpulan yang diorganisir menurut pengarangnya ataupun temanya, dan dalam blog.

Baca Terusannya »»  

filsafat Dan Sastra

FILSAFAT DAN SASTRA
Kamis, may 27, 2010

MEN OF IDEAS

Dalam buku dengan judul diatas, Bryan Magee, berdialog dengan lima belas filsuf
kontemporer dari berbagai negara. Antara lain dari Inggris, AS, dan Perancis.
Dialog ini mula-mula ditayangkan melalui salah satu saluran televisi Inggris
beberapa tahun silam. Setelah diadakan sedikit perubahan di sana-sini, terutama
penyesuaian dari bahasa lisan ke bahasa tulisan agar dapat lebih mudah dicerna
oleh orang awam, kemudian diterbitkan dalam bentuk buku dengan anak judul 'Some
Creators of Contemporary Philosophy'.

Melalui prakata, Magee menegaskan bahwa penerbitan dalam bentuk buku ini
terdorong oleh keinginan untuk memperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas
beberapa wilayah yang menarik dalam aneka bidang filsafat. Pertanyaan-pertanyaan
seperti siapa tokoh filsafat yang menyandang nama besar, apa yang mereka lakukan
dan kenapa mereka dianggap besar, apa yang dimaksudkan dengan filsafat
eksistensialisme, filsafat moral, filsafat politik, filsafat sains, dan filsafat
kesusastraan adalah beberapa dari seruntun pertanyaan yang dijawab oleh buku
itu. Berbagai bidang filsafat ini dikupas dalam bentuk diskusi, dan menjadi
bacaan yang kian menarik karena Bryan Magee memberi penjelasan tambahan,
mengambil kesimpulan serta menyuguhkan latar belakang sejarah lapangan filsafat
tertentu terutama filsafat Marxis, dan filsafat logika positif.

Bagi yang ingin berkenalan dengan filsafat, pertanyaan paling pertama muncul
dalam pikiran mungkin adalah: apakah filsafat? Dan justru memang pertanyaan
filsafat yang paling mendasar inilah yang diajukan oleh Magee untuk membuka
bagian pertama dari lima belas diskusi yang dihimpunnya ke dalam bentuk buku
yang diberinya judul 'Men of Ideas'. Pertanyaan ini diserahkanya kepada filsuf
Inggris, Sir Isaiah Berlin dari Oxford, dan penulis biografi Marx. Diskusi
dengan Sir Isaiah Berlin yang diberi judul 'Pengantar ke Dalam Filsafat' ini
berkisar pada berbagai permasalahan yang mendasar dalam filsafat. Landasan titik
tolak yang diambil oleh filsafat sebagaimana secara berlebar panjang
dibentangkan oleh Isaiah Berlin, kurang lebih dapat kita simpulkan dengan
mengatakan bahwa di tengah perjuangan mencari pengetahuan tentang manusia,
mereka pada umumnya mengajukan dua jenis pernyaan.

Pertama, berbagai pertanyaan mengenai dunia semesta. Manusia sepanjang masa
mencoba menemukan serta menguasai lingkungannya, atau menaklukkan lingkungannya.
Pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut alam semesta ini, menurut Berlin, hanya
bisa terjawab pada akhirnya dengan meninjau pertanyaan-pertanyaan itu sendiri,
menyelidiki, mengamati, menguji, melakukan percobaan terhadap semesta dan
seterusnya. Pertanyaan-pertanyaan itu bersifat faktual, atau sebagaimana yang
dikatakan oleh para filsuf: bersifat empiris. Atau jelasnya, pertanyaan
pertanyaan yang berpaut dengan pengalaman.

Pertanyaan yang kedua bersifat lebih abstrak dan formal. Misalnya pertanyaan
pertanyaan dalam bidang matematika atau logika. Pertanyaan jenis ini berkaitan
dengan hubungan timbal-balik antara berbagai kesatuan dengan sistem formal, dan
oleh karena itu tidak dapat dijawab hanya dengan meninjau alam semesta. Dengan
mengatakan hal ini, menurut Berlin lagi, tidaklah dimaksudkan bahwa pertanyaan
itu berada pada jarak yang jauh dari perhatian kita sehari-hari. Satu sistem
formal yang sudah sangat biasa kita pakai dalam kehidupan sehari-hari adalah
aritmatik.

Sistem itu kita pergunakan setiap hari untuk menghitung sesuatu, menentukan
waktu, membilang uang dan sebagainya. Suatu sistem niskala memang bisa sangat
berguna dan penting dalam kehidupan praktis kita sehari-hari. Dengan demikian,
terdapat dua golongan besar pertanyaan: berbagai pertanyaan empiris yang
melibatkan ikhtiar meninjau berbagai fakta dan pertanyaan-petanyaan formal yang
melibatkan upaya menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Hampir seluruh
pertanyaan, dan karena itu seluruh pengetahuan, termasuk ke dalam salah satu
dari golongan pertanyaan tadi. Namun tidaklah demikian halnya dengan pertanyaan
pertanyaan yang bersifat filosofis. Hampir seluruh pertanyaan yang menunjukkan
tanda-tanda pertanyaan filosofis tidak termasuk ke dalam dua golongan pertanyaan
tadi.



Pertanyaan seperti apakah yang dimaksudkan dengan hak, keindahan, dan keadilan,
tidak dapat sekadar dijawab hanya dengan meneliti ikatan suatu sistem formal
atau meninjau fakta-fakta. Oleh sebab itu kita tidak mengetahui apa yang harus
diperbuat untuk menemukan jawabannya. Timbulnya pertanyaan yang menuntut jawaban
tanpa suatu pengertian yang jelas tentang bagaimana menemukan jawabannya adalah
awal dari langkah filsafat. Anggapan keliru yang terlanjur meluas di tengah
masyarakat adalah perkiraan bahwa filsafat dapat memberikan petunjuk-petunjuk
moral tentang bagaimana semestinya kehidupan ini harus dijalani, atau berharap
bahwa filsafat dapat menyodorkan penjelasan tantang manusia dan alam semesta,
tentang rahasia kehidupan. Atau, dengan lain perkataan, orang mencoba
menghampiri filsafat untuk menemukan jawaban-jawaban yang serba pasti.

Seorang filsuf memang bisa bicara tentang moral, tapi dalam hal ini kedudukannya
hanya sebagai penasehat filosofis. Bukanlah tugasnya untuk berkhotbah, mengutuk
atau memuji, atau memberi berbagai petunjuk tentang bagaimana orang harus hidup.
Tugas seorang filsuf, menurut Berlin, hanyalah menempatkan arah dari satu
tindakan dalam hubungan moralnya. Menentukan posisinya berdasarkan suatu peta
moral, menguhubungakan sifat, motif, tujuannya pada kaitan seluk-beluk nilai ke
dalam mana tindakan itu tergolong. Menarik garis dari berbagai akibatnya yang
mungkin terjadi serta berbagai implikasinya yang berpautan atau relevan,
memberikan berbagai argumen yang pro atau menentangnya dengan seluruh
pengetahuan, pengertian, kecakapan logika dan kedalaman moral yang dimiliki oleh
sang filsuf.

Dengan demikian, maka ia telah menjalankan tugasnya bukan sebagai seorang
pengkhotbah atau juru mudi kehidupan, melainkan sekadar sebagai seorang
penasehat filosofis. Seorang filsuf tidak dapat berbuat lebih jauh dari itu atau
melampaui batas tugasnya sebagai seorang penasehat filosofis.

Berpijak pada pandangan tadi, Berlin menyuarakan keberatannya pada sebagian
besar filsuf moral dan politik, mulai dari Plato dan Aristoteles sampai pada
Immanuel Kant, Stuart Mill, Moore, serta kebanyakan para pemikir kontemporer.
Menurut Berlin, para filsuf itu justru berbuat sebaliknya. Mereka berusaha
mengajarkan bagaimana membedakan antara yang buruk dengan yang baik,
menganjurkan penerapan pola-pola yang benar ke dalam tingkah laku manusia.
Kendati demikian, diakui pula oleh Berlin bahwa filsafat mengemban tugas ganda:
menyelidiki, khususnya mengecam pra-anggapan atas ketentuan-ketentuan nilai yang
ditetapkan atau dirumuskan oleh manusia dengan pikiran maupun tindakanya.
Sedangkan tugas lain adalah menampung atau melayani berbagai pertanyaan yang
tidak termasuk baik ke dalam golongan formal maupun ke dalam golongan empiris
yang telah disinggung dipermulaan tadi.

Buku yang diawali dengan memperkenalkan filsafat melalui dialog dengan Sir
Isaiah Berlin itu, kemudian beranjak menelusuri berbagai pokok pikiran dalam
banyak lapangan filsafat lainya. Filsafat Marxis misalnya, dibicarakan melalui
dialog dengan Charles Taylor dari All Souls College, Oxford. Filsafat
eksistensialisme moderen yang dikatakan lahir sebagai akibat pecahnya perang
dunia II, yang diduga bermula di Perancis. Tetapi sebenarnya berawal di Jerman.
Tokohnya bukan Jean Paul Sartre melainkan Heiderger. Ini dibicarakan melalui
diskusi dengan William Barret, seorang guru besar filsafat pada New York
University, pengarang buku terkenal 'Irrational Man'. Filsafat moral dibahas
dalam tanya jawab dengan Prof. R.M. Hare.

Namun yang ingin dibicarakan di sini secara lebih panjang lebar adalah bagian
terakhir itu: dialog Magee dengan Iris Murdoch, seorang filsuf dan novelis
berdarah Irlandia terkenal yang telah memperkaya khasanah kesusastraan Inggris
kontemprorer dengan sejumlah novelnya, dan seperti Salman Rushdie, ia pernah
pula meraih hadiah sastra prestisius: 'Booker's Prize'. Beberapa filsuf besar
memang sekaligus pula pengarang besar atau pujangga besar. Mereka juga banyak
menetaskan buku-buku kesusastraan. Contoh yang paling jelas adalah Plato, St
Augustine, dan Schopenhaeur. Sejumlah nama-nama besar lain juga dapat
dikatambahkan dalam kaitan ini seperti Nietzsche, Descartes, Berkeley dan Hume.
Dan yang muncul abad ini: Bertrand Russel, serta Jean Paul Sartre. Kedua filsuf
yang disebut terakhir ini bahkan berhasil memenangkan hadiah Nobel dalam
kesusastraan. Begitupun, Magee berpendapat bahwa kesusastraan tidaklah begitu
saja dapat dianggap sebagai cabang dari filsafat. Kalau seorang filsuf berhasil
menciptakan karya sastra yang baik, ini merupakan satu kelebihan baginya. Ia
menjadi tumpuan perhatian yang lebih menarik untuk dikaji.

Namun keberhasilannya mencipta karya sastra yang baik tidaklah dengan sendirinya
membuatnya menjadi seorang filsuf yang baik. Karena kwalitas serta arti penting
filsafat bukan diperhitungkan berdasarkan nilai-nilai sastra atau estetika. Hal
ini agaknya memang perlu ditekankan karena dalam beberapa segi antara filsafat
dengan kesusastraan, dua bidang yang sama sekali berbeda, ternyata memang
seringkali mengalami tumpang tindih. Orang mencampur-baurkannya sehingga tidak
terlihat lagi perbedaan antara keduanya. Dan masalah inilah yang menguasai
diskusi Bryan Magee dengan Iris Murdoch, seorang yang seperti sudah dikemukakan
tadi, menyandang predikat filsuf yang sekaligus juga novelis internasional yang
produktif. Sayang ia telah berpulang belum lama berselang.

Pada bagian diskusi pertama dibicarakan perbedaan antara filsafat dengan
kesusastraan. Di bagian kedua didiskusikan ide-ide filosofis mengenai
kesusastraan, dan di bagian terakhir kedua tokoh tadi membahas filsafat dalam
kesusastraan.

Menurut Iris Murdoch, filsafat bertujuan memperjelas dan menerangkan, filsafat
mencoba memecahkan persoalan-persoalan yang sulit dan sangat teknis sifatnya.
Penulisan filsafat harus dengan patuh berangkat menuju tujuan itu. Sedangkan
kesusastraan adalah satu seni. Satu segi dari suatu bentuk seni. Kesusastraan
mengemban tujuan-tujuan kesenian. Kesusastraan merupakan satu bentuk
pengungkapan diri, sementara filsafat tidak demikian halnya. Filsafat tidak
menuju pada satu bentuk penyempurnaan formal demi kepentingan filsafat itu
sendiri, padahal kesusastraan bergelut dalam permasalahan kompleks dalam bentuk
estetika. Kesusastraan mencoba menghasilkan suatu macam penyelesaian. Karya
sastra berusaha menciptakan ilusi, sementara filsafat justru berjuang
melenyapkan ilusi. Karya sastra adalah karya seni, sementara karya filsafat
adalah sesuatu yang lain.

Memang ada, tutur Murdoch, tetapi sangat jarang, karya filsafat yang dapat
sekaligus dinilai sebagai karya sastra atau seni seperti 'Symposium' karya
Plato. Ditegaskan pula olehnya bahwa adalah dalam kaitannya dengan bagian karya
filsafat Plato yang lain, 'Symposium' dapat dinilai sebagai satu pernyataan
filsafat. Banyak pemikir besar yang sekaligus juga pengarang besar, namun mereka
tidak bisa disebut filsuf. Contoh yang dikemukakan Iris Murdoch adalah Soren
Kierkergard dan Nietzsche, dua tokoh yang oleh Dr Fuad Hassan dalam buku
'Berkenalan dengan Existensialisme' terbitan Universitas Indonesia dibicarakan
sebagai filsuf Existensialist.

Kendati Murdoch berpendapat bahwa kesusastraan dan filsafat merupakan dua
lapangan yang berlainan, namun ia sendiri ternyata tidak mampu mendefinisikan
apa sebenarnya yang dimaksud dengan kesusastraan. Walaupun demikian, ia
mengatakan orang secara kasar memahami apa yang diartikan dengan istilah
kesusastraan. Kesusastaran adalah bentuk seni yang menggunakan medium kata-kata.
Karya jurnalistik karena itu juga dapat dinilai sebagai karya kesusastraan.
Tulisan ilmiah juga bisa dianggap sebagai karyaa sastra. Kesusastraan, menurut
Murdoch, beragam bentuknya dan amat luas. Filsafat dinilainya sempit dan sulit.
Begitupun, Murdoch menandaskan bahwa filsafat bukan suatu jenis pencapaian
sainstifik. Filsafat menggoncangkan konsep-konsep semi-estetis terhadap mana
kita umumnya bergantung. Dan katanya pula, siapa saja yang mengandalkan sains,
akan tersingkir ke luar wilayah filsafat. Filsafat adalah upaya untuk mengamati
berbagai konsep yang paling umum dan mendalam. Bukanlah ikhtiar yang gampang
mengajak orang untuk dapat melihat tahap di mana filsafat melakukan operasinya.

Meskipun Iris Murdoch bisa menerima filsafat dan kesusastraan sebagai dua bidang
yang berlainan, namun ia juga mengakui bahwa terdapat pula persamaan di antara
keduanya. Filsafat dan kesusastraan, kata Murdoch, adalah pencari kebenaran dan
berupaya mengungkapkan kebenaran. Keduanya merupakan kegiatan yang disadari
serta dilandaskan pada pengertian, atau bersifat kognitif. Kesusastraan adalah
aktivitas imajinatif, begitu juga halnya dengan filsafat. Tetapi pertanyaan
pertanyaan yang dikejar oleh filsafat secara keseluruhan tidak serupa dengan
pertanyaan-pertanyaan kongkrit yang ingin digapai oleh kesusastraan.

Berbagai metoda yang diterapkan, serta suasana yang melingkupi filsafat,
sebagaimana pada sains, berusaha menangkis berbagai godaan fantasi pribadi,
sementara imajinasi kreatif serta fantasi amat erat dan merupakan kekuatan yang
tidak dapat dielakkan oleh seorang pencipta karya sastra. Filsuf wanita itu
menilai bahwa hasrat untuk mengungkapkan diri, untuk memperjelas dan menentukan
nilai diri, merupakan motivasi yang kuat untuk berkarya. Dalam hal ini yang
dimaksudkan Murdoch adalah karya sastra. Karena itu ia berpendapat bahwa lebih
menyenangkan untuk menjadi seorang seniman daripada berusaha menjadi seorang
filsuf.

Sastra bisa dianggap satu tehnik disiplin untuk membangkitkan emosi-emosi
tertentu, termasuk emosi-emosi yang merangsang sensasi khayalan dan sensasi
fisik. Sebagian besar wujud kesenian, kata Murdoch, dikaitkan dengan sex, sengan
berbagai fantasi yang tidak baik. Yang ia maksudkan dengan fantasi tidak baik
itu adalah fantasi yang mengundang imaji pornografis, menimbulkan bentuk-bentuk
pemanjaan diri sendiri dan yang biasanya menghasilkan berbagai nilai yang salah
seperti pemujaan pada kekuasaan, status dan kekayaan. Dengan alasan ini pulalah
sementara filsuf berbalik memusuhi seni. Bahkan melalui salah satu bukunya yang
berjudul 'The Fire and The Sun', Iris Murdoch secara khusus berbicara tentang
sikap permusuhan Plato terhadap seni, padahal Plato sendiri dalam karya-karyanya
justru sering menggunakan bentuk-bentuk seni. Atau seperti dikatakan Bryan
Magee, jelas terlihat banyak bentuk seni dalam karya-karya Plato. Lantas kenapa
Plato, sebagaimana yang dinilai oleh Murdoch, bukan hanya bapak filsafat,
melainkan juga seorang filsuf terbaik, justru mengambil sikap bermusuhan
terhadap seni?

Dari titik tolak pertanyaan itulah Murdoch kemudian berangkat menguraikan
teorinya mengenai pandangan filsafat terhadap kesusastraan. Sebagai seorang
pakar teori politik, kata Murdoch, Plato takut terhadap kekuatan emosional yang
irrasional dalam seni. Kekuatan untuk menyebarkan berbagai kebohongan yang
menarik atau kebenaran-kebenaran subversif. Plato menyepakati sensor yang keras
serta pembasmian para pengarang lakon sandiwara. Plato taat pada agama, dan ia
merasa bahwa seni memusuhi agama dan filsafat. Seni menurut Plato merupakan
suatu pengganti yang egoistis bagi disiplin agama. Kenyataan bahwa karya Plato
sendiri merupakan karya seni yang besar adalah dalam pengertian bahwa ia sendiri
secara teoritis tidak mengakuinya. Dikatakannya, terdapat pertenggkaran yang
sudah berlangsung lama antara filsafat dengan puisi. Dan kita harus ingat, tutur
Murdoch, pada masa Plato filsafat baru saja muncul atau lahir dari berbagai
bentuk puisi dan spekulasi teologis. Filsafat memang mengalami kemajuan dengan
membatasi dirinya sebagai sesuatu yang tersendiri. Pada masa Plato, filsafat
memisahkan diri dari kesusastraan. Pada abad ketujuh belas memisahkan diri ilmu
alam. Pada abad kedua puluh memisahka diri dari psychologi. Plato berpendapat
seni adalah usaha meniru, tetapi peniruan yang buruk. Murdoch berpendapat,
memang benar bahwa lebih banyak seni yang buruk daripada seni yang bagus di
sekitar kita. Dan Ironisnya orang justru lebih menyukai seni yang buruk itu
daripada yang baik. Plato berkeyakinan bahwa seni pada hakikatnya adalah fantasi
pribadi, suatu bentuk perayaan terhadap hal-hal tanpa nilai atau suatu bentuk
penyelewengan dari hal-hal yang baik.

Selanjutnya Murdoch mengatakan bahwa Plato menilai seni sebagai usaha
penjiplakan yang remeh terhadap obyek tertentu tanpa mengandung arti penting
umum. Pendapat Plato ini menurut Murdoch tidaklah secara keseluruhan berbeda
dengan pandangan Bapak psikologi, Sigmund Freud. Freud menilai seni sebagai
fantasi seorang seniman yang berbicara langsung kepada fantasi penikmat karya
seninya. Seni dalam pandangan Freud adalah satu bentuk hiburan pribadi, satu
jembatan untuk memperoleh kepuasan yang tidak sempat didapat dalam kehidupan
nyata. Oleh karena itu, kata Murdoch, kita bisa menyaksikan bagaimana sebuah
cerita menegangkan atau filem yang sentimental dengan mudah bisa merangsang
fantasi pribadi para pembaca atau penonton. Pornografi adalah contoh yang
ekstrim dari seni tersebut.

Namun dipertanyakan oleh Bryan Maggee apakah kritik semacam itu hanya berlaku
untuk seni yang buruk. Bagaimana halnya dengan seni yang baik? Menjawab
pertanyaan ini, Iris Murdoch mengatakan bahwa seorang penikmat seni bisa saja
menggunakan hasil seni untuk melayani tujuannya sendiri, dan hanya seni yang
bagus sanggup menolak tujuan-tujuan yang tidak baik dengan lebih berhasil.
Maksudnya seseorang mungkin saja mengunjungi satu galeri hanya untuk menyaksikan
citra (image) yang pornografis, padahal karya seni yang dipamerkan di sana
barangkali tidak semuanya bisa menimbulkan citra pornografis. Dan karena itu,
kemungkinan suatu karya seni ditafsirkan secara tidak baik bukanlah sesuatu yang
mustahil terjadi. Murdoch secara tegas menolak pornografi. Ditandaskannya bahwa
pornografi mendatangkan akibat yang benar-benar merusak dan memerosotkan nilai
seni. Dan disayangkannya pula bahwa lebih banyak orang justru menyukai, seperti
yang dikatakannya sendiri, karya seni picisan itu.

Lalu karya seni bagaimana yang dinilai baik oleh Murdoch? Saya kira, katanya
menerangkan, karya seni yang baik adalah karya seni yang mengandung imajinasi,
bukan fantasi. Karya itu hendaknya mampu mematahkan kebiasaaan kita untuk
berfantasi, dan sekaligus mendorong kita berusaha untuk mendapatkan pandangan
yang benar tentang hidup dan kehidupan. Kita seringkali tidak berhasil melihat
kenyataan dunia yang luas ini, karena pandangan kita dibutakan oleh obsesi,
kekhawatiran, rasa iri, kejengkelan dan ketakutan. Kita membangun dunia kecil
kita untuk diri kita sendiri, dan kita terkungkung di dalamnya. Seni yang bagus,
karya seni yang besar, kata filsuf wanita itu pula, adalah karya seni yang
bersifat membebaskan, yang memungkinkan kita untuk melihat dan mendapatkan
kesenangan dari sesuatu yang bukan melulu kupuasan kita akan diri kita sendiri.
Karya sastra yang baik, tambah Murdoch, adalah karya sastra yang sanggup
mendorong serta memuaskan rasa ingin tahu kita, yang mampu membuat kita menaruh
perhatian kepada orang lain serta masalah-masalah lain, yang sanggup membuat
kita bertenggang rasa dan lapang dada. Dikatakannya pula, bahwa dengan
berpandangan demikian, bukan berarti dirinya hanya menilai seni semata-mata dari
sudut pendidikan serta faedahnya saja. Seni lebih luas dari gagasan-gagasan
sempit seperti itu, tegas Murdoch. Plato setidaknya juga berpendapat betapa
pentingnya seni itu dalam kehidupan manusia. Dan Plato sekaligus mengemukakan
pertanyaan-pertanyaan yang menarik tentang itu.

Iris Murdoch menilai para filsuf secara keseluruhan tidak sungguh-sungguh
berusaha menulis dengan baik tentang seni karena mereka menganggap seni sebagai
masalah kecil. Dalam pada itu Magee berpandapat bahwa tidak seperti hampir semua
filsuf lainnya, filsuf Perancis Shopenhauer menilai seni sebagai titik pusat
kehidupan manusia, dan sang filsuf berbicara secara mendalam mengenai hal itu.
Memang benar, kata Murdoch, Schopenhaeur memang bertikai pendapat dengan Plato.
Ia bahkan memutar balik pandangan Plato tentang seni. Schopenhaeur mengatakan
bahwa seni menguakkan cadar atau kabut subyektivitas, menangkap arus pancaroba
kehidupan, dan membuat kita bisa melihat dunia nyata serta menghayati keindahan.
Ia menilai seni sebagai kegiatan kecendekiaan, aktivitas moral yang tinggi, satu
usaha untuk mengatasi diri dan melihat dunia. Sekalipun demikian, ditegaskan
oleh Murdoch bahwa Schopenhauer hanyalah satu perkecualian di kalangan para
filsuf yang benar-benar mencintai dan menghargai seni.

Dan untungnya, ujar Murdoch, seniman tidak terlalu banyak memperhatikan para
filsuf. Filsafat terkadang bisa merusak seni. Filsafat bisa membuat orang buta
terhadap beberapa jenis seni, atau hanya mampu menghasilkan jenis-jenis seni
tertentu. Pendapat Murdoch ini dikuatkan oleh Bryan Magee dengan mengemukakan
contoh justru di dunia moderen. Di antara filsafat yang merusak seni, kata
Magee, adalah Marxisme. Menurut teori Marxis, seni memiliki satu peranan khusus,
yakni menjadi alat atau instrumen dari revolusi sosial. Semua hasil seni Marxis
itu, seperti dalam bentuk novel, sandiwara, lukisan, seni rupa dan sebagainya,
dinilai Magee sebagai sampah. Alasannya, penciptaan seni Marxis itu sama sekali
tidak digerakkan oleh dorongan seni yang murni.

Dalam pada itu Murdoch menolak anggapan bahwa tugas seorang seniman adalah
melayani atau mengabdi kepada masyarakat. Marxis, kata Murdoch, beranggapan
demikian: tugas seorang seniman mengabdi kepada masyarakat, meskipun
dikatakannya pula sudah lama timbul pertikaian pendapat mengenai hal itu. Segera
setelah seorang pengarang berkata kepada dirinya sendiri, kata Murdoch, bahwa
saya harus mengubah masyarakat melalui tulisan-tulisan saya, maka besar
kemungkinan pengarang itu akan merusak karya-karyanya. Tapi apakah pernyataan
Murdoch yang terakhir ini bisa berlaku untuk Charles Dickens misalnya? Charles
Dickens salah seorang pengarang besar Inggris dengan tujuan-tujuan sosial yang
murni. Ia tidak diragukan lagi telah berhasil mendatangkan, melalui karya
karyanya, pengaruh sosial yang luas. Dickens, kata Murdoch, memang berhasil
berbuat banyak hal. Ia misalnya berhasil sebagai pengarang besar yang imajinatif
dan seorang kritikus sosial yang kukuh dan lantang. Namun hal ini disebabkan
oleh karena adanya berbagai skandal dalam masyarakat. Dickens sangat berhubungan
erat dengan kegaduhan serta perubahan sosial yang secara amat mendalam menjerat
imajinasinya. Dickens menjadi pengarang besar berkat kemampuannya menciptakan
perwatakan para pelakunya, di samping karena kedahsyatan imajinasinya yang
sedikit saja berkaitan dengan pembaharuan atau perubahan sosial.

Dengan mengatakan itu, Murdoch tetap berkeras untuk tidak beranggapan bahwa
seniman, atau sentengah seniman, mengemban satu tugas besar terhadap masyarakat.
Seorang warga negara memang memikul tugas kemasyarakatan, dan seorang pengarang
memang mungkin kadang-kadang merasa punya keharusan menulis sebuah artikel di
surat kabar untuk membujuk atau meyakinkan masyarakat, namun itu merupakan satu
kegiatan yang lain sifatnya. Kewajiban seorang seniman adalah kepada seni,
mengungkapkan kebenaran melalui media seni yang dipilihnya. Tugas utama seorang
pengarang adalah menciptakan karya-karya sastra sebaik yang dapat dilakukannya,
dan ia harus berusaha untuk dapat melaksanakanya. Sebuah karya teater yang penuh
propaganda dan bersikap acuh tak acuh terhadap seni, mengandung kemungkinan
menjadi sebuah pernyataan yang menyesatkan, walaupun karya teater itu diilhami
oleh sekian prinsip yang baik. Apabila seni yang betul-betul seni dijadikan
sebagai tujuan, kata Murdoch lebih lanjut, maka keadilanlah yang harus dijadikan
tujuan utama.

Sebuah tema sosial yang ditampilkan melalui satu bentuk karya seni, besar
kemungkinan akan menjadi lebih jelas ditangkap maksudnya walaupun tema itu
barangkali kurang mengandung daya untuk meyakinkan masyarakat. Dan seniman,
sembarang seniman, boleh saja secara sambil lalu melayani masyarakat dengan
mengungkapkan hal-hal yang tidak diperhatikan atau difahami oleh masyarakat
tersebut. Dalam setiap masyarakat, kata Murdoch, terdapat propaganda, memiliki
kemungkinan-kemungkinan propaganda, sehingga kemampuan untuk membedakan
propaganda ini, termasuk usaha melestarikan kesucian serta kemandirian penerapan
praktek-praktek seni adalah penting sekali. Satu masyarakat yang baik, demikian
Murdoch, adalah masyarakat di mana para senimannya bisa melakukan berbagai hal
yang berlainan. Masyarakat yang buruk, adalah masyarakat yang menindas kebebasan
seniman karena masyarakat itu tahu bahwa seniman bisa mengungkapkan berbagai
kebenaran
Baca Terusannya »»  
SURAT UNTUK SAHABAT-KU

Sahabat adalah Mahluk terindah yang selalu mengerti diri kita, selalu memahami keadaan kita, artikel berikut adalah sebuah surat untuk seorang sahabat, terdapat 2 bahasa ( Inggris dan Indonesia ), bagi anda yang mencari Resensi untuk menulis surat untuk sahabat, sebuah karya cipta original dari gudangsastraindo.blogspot.com
Baca Terusannya »»  

Unsur-unsur dalam Karya Sastra





Ada dua unsur utama dalam karya sastra, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur ekstrinsik berupa segala sesuatu yang menginspirasi penulisan karya sastra dan mempengaruhi karya sastra secara keseluruhan. Unsur ekstrinsik ini meliputi: latar belakang kehidupan penulis, keyakinan dan pandangan hidup penulis, adat istiadat yang berlaku pada saat itu, situasi politik (persoalan sejarah), ekonomi, dsb. Sementara unsur intrinsik terdiri atas:

Tema
Pokok persoalan dalam cerita.

Karakter
Tokoh dalam cerita. Karakter dapat berupa manusia, tumbuhan maupun benda
Karekter dapat dibagi menjadi:

• Karakter utama: tokoh yang membawakan tema dan memegang banyak peranan dalam cerita
• Karakter pembantu: tokoh yang mendampingi karakter utama

• Protagonis : karakter/tokoh yang mengangkat tema
• Antagonis : karakter/tokoh yang memberi konflik pada tema dan biasanya berlawanan dengan karakter protagonis. (Ingat, tokoh antagonis belum tentu jahat)

• Karakter statis (Flat/static character) : karakter yang tidak mengalami perubahan kepribadian atau cara pandang dari awal sampai akhir cerita.
• Karakter dinamis (Round/ dynamic character): karakter yang mengalami perubahan kepribadian dan cara pandang. Karakter ini biasanya dibuat semirip mungkin dengan manusia sesungguhnya, terdiri atas sifat dan kepribadian yang kompleks.

Catatan: karakter pembantu biasanya adalah karakter statis karena tidak digambarkan secara detail oleh penulis sehingga perubahan kepribadian dan cara pandangnya tidak pernah terlihat secara jelas.

Karakterisasi
Cara penulis menggambarkan karakter. Ada banyak cara untuk menggali penggambaran karakter, secara garis besar karakterisasi ditinjau melalui dua cara yaitu secara naratif dan dramatik. Teknik naratif berarti karakterisasi dari tokoh dituliskan langsung oleh penulis atau narator. Teknik dramatik dipakai ketika karakterisasi tokoh terlihat dari antara lain: penampilan fisik karakter, cara berpakaian, kata-kata yang diucapkannya, dialognya dengan karakter lain, pendapat karakter lain, dsb.

Konflik
Konflik adalah pergumulan yang dialami oleh karakter dalam cerita dan . Konflik ini merupakan inti dari sebuah karya sastra yang pada akhirnya membentuk plot. Ada empat macam konflik, yang dibagi dalam dua garis besar:

Konflik internal
Individu-diri sendiri: Konflik ini tidak melibatkan orang lain, konflik ini ditandai dengan gejolak yang timbul dalam diri sendiri mengenai beberapa hal seperti nilai-nilai. Kekuatan karakter akan terlihat dalam usahanya menghadapi gejolak tersebut
Konflik eksternal Individu – Individu: konflik yang dialami seseorang dengan orang lain
Individu – alam: Konflik yang dialami individu dengan alam. Konflik ini menggambarkan perjuangan individu dalam usahanya untuk mempertahankan diri dalam kebesaran alam. Individu- Lingkungan/ masyarakat : Konflik yang dialami individu dengan masyarakat atau lingkungan hidupnya.
Seting
Keterangan tempat, waktu dan suasana cerita

Plot
Jalan cerita dari awal sampai selesai
• Eksposisi : penjelasan awal mengenai karakter dan latar( bagian cerita yang mulai memunculkan konflik/ permasalahan)
• Klimaks : puncak konflik/ ketegangan
• Falling action: penyelesaian

Simbol
Simbol digunakan untuk mewakili sesuatu yang abstrak. Contoh: burung gagak (kematian)

Sudut pandang
Sudut pandang yang dipilih penulis untuk menyampaikan ceritanya.
• Orang pertama: penulis berlaku sebagai karakter utama cerita, ini ditandai dengan penggunaan kata “aku”. Penggunaan teknik ini menyebabkan pembaca tidak mengetahui segala hal yang tidak diungkapkan oleh sang narator. Keuntungan dari teknik ini adalah pembaca merasa menjadi bagian dari cerita.
• Orang kedua: teknik yang banyak menggunakan kata ‘kamu’ atau ‘Anda.’ Teknik ini jarang dipakai karena memaksa pembaca untuk mampu berperan serta dalam cerita.
• Orang ketiga: cerita dikisahkan menggunakan kata ganti orang ketiga, seperti: mereka dan dia.

Teknik penggunaan bahasa
Dalam menuangkan idenya, penulis biasa memilih kata-kata yang dipakainya sedemikian rupa sehingga segala pesannya sampai kepada pembaca. Selain itu, teknik penggunaan bahasa yang baik juga membuat tulisan menjadi indah dan mudah dikenang. Teknik berbahasa ini misalnya penggunaan majas, idiom dan peribahasa.







Baca Terusannya »»  

Sastra Anak Sebagai Wahana Pengenalan dan Pengasuhan Ideologi


Penelitian dengan judul Sastra Anak sebagai Wahana Pengenalan dan Pengasuhan Ideologi: Sebuah Kajian Wacana ini berusaha untuk mempelajari genre serta register bacaan anak, baik berupa cerita bergambar maupun komik, untuk mengenali ideolgi yang terkandung di dalam cerita anak tersebut.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif, dengan sumber data bacaan anak, dan data yang berupa leksikogramatika, sistem kohesi, struktur teks, (yang seluruhnya disebut register) serta genre bacaan anak. Tehnik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan kriteria: buku bacaan anak bisa berupa komik dan cerita bergambar, yang ditulis oleh penulis Indonesia, diterbitkan oleh penerbit Indonesia, dan diperuntukan kepada anak umur 2-10 tahun. Analisis dan interpretasi serta pembahasan penelitian ini menggunakan pendekatan Linguistik Sistemik Fungsional serta Analisis Percakapan, untuk membaca artikel yang lebih lengkapnya lagi , silahkan download dibawah ini:
Baca Terusannya »»  
Senin, 24 Mei 2010

Diary Sang Penikmat Malam


DIARY SANG PENIKMAT MALAM

Kesunyian malam telah membuat para Pujangga terbelenggu, indahnya Cinta ternyata menyisakan sebuah kerinduan tanpa batas, tak pernah tersentuh oleh buaian mimpi dan harapan yang indah, ingin tahu bagaimana diary sang penikmat malam lebih lengkap, silahkan download dibawah:
Baca Terusannya »»  

Novel Karya Kahlil Gibran " SATAN"


melihat ayah orang-orang atas samaan sebagai mereka penunjuk jalan dalam bidang rohani dan perkara teologis, untuk dia kekuasaan dan sumber informasi dalam di dapat diampuni dan dosa fana, berpengalaman dalam baik rahasia surga, neraka, dan keadaan menderita untuk sementara waktu. mau tahu cerita gibran lebih lengkapnya,
silahkan download dibawah ini:
Baca Terusannya »»  

tentang saya

Foto Saya
Langga Gustanto
The man who wrote a hobby
Lihat profil lengkapku

Followers


ShoutMix chat widget